Selasa, 12 Juli 2011

BAJU PUTIH ABU-ABU ITU MASIH KUGANTUNG !


Seseorang boleh bersyukur untuk sehat bila sakit telah selesai mendera

manusia boleh tau nikmat kebersamaan. Bila perpisahan sudah terlaksana..

Perpisahan adalah kata lain untuk menggambarkan sosok kejam sekaliber hitler sekalipun

tapi bagi mereka mereka yang tersenyum dan terus berjalan, mungkin perpisahan hanya sebuah teguran kehidupan yang sebagian nilainya yang pernah tercapai menjadi acuan untuk melangkah lagi dan lagi ke depan.

Diam diam aku mencuri pandang, mengintip ke gersang masa depanku.

Ya padang pasir yang kosong melompong pasti orang menilai ketika sekilas memampirkan pandangannyatapi dengan sebuah cangkul dan sedikit usaha, sebenarnya cita dan masa depan yang dahsyat luar biasa sudah terpendam lama, kini sudah waktunya menyeruak di mata dunia, di mata media, di mata guru guruku yang menilai aku tak akan pernah bisa

ini hanya obrolan ngalor ngidulku tentang seberapa sepi aku ketika sekarang bersahabat dengan kata perpisahan.

Tidak ada teman untuk berbagi, tidak ada teman yang saling membagi obsesi.Tidak ada teman yang akan sama sama berangkulan untuk berdiri..

Aku punya teman, teman lain dari teman. Dia banyak wawasan, angka tiga tertulis di dahi Ibu nursiah yang bangga akan dirinyaaku berani bilang dia adalah kawan terpintarku untuk sekarang, karena dia memang benar benar pintar merangkul percaya diriku, disaat orang tidak percaya aku, disaat orang meludahi wajahku. Dia datang dan membawa mimpi mimpi baru. Dia hargai aku dan dia membuat aku merasa punya harga untuk hidup.

Persahabatan sama sama tiga, dia tiga aku tiga, sayangnya dia benar-benar tiga, aku pengklamufasean dari angka tiga dua. Si buncit yang menduduki peringkat buncit.

Tapi jangan salah, si buncit ini juga punya kisah cinta. Kisah yang juga luar biasa. Kisah dimana ada aku, dia dan ketidakberanian yang berdiri di tengahnyaaku suka dia, melebihi aku suka wanita lainnya. Melebihi dari wanita wanita yang kian senang memamer selangkangannya. Sungguh aku suka dia.

Seorang teman menamparku, sakit. Teramat sakit karena asal tamparan itu bukan dari tangannya yang kasar, tapi dari mulutnya yang lembut

'sadar, lo siapa dia siapa'

oke, aku bercermin melihat wajah dan sedikit membenarkan jambangku. Ternyata Mudah untuk membenarkan itu untuk lurus, tapi kisah hidupku tidak mudah untuk kembali lurus, aku siapa untuk waktu ini ? Si bodoh, si buruk rupa, si pemalas, si penanya 1 sampai 40 ketika ujian negara.

Dia siapa ?Eksis ? Tentunya
cantik ? Jelas
plus manis ? Sayangnya juga begitu
pintar ? Setidaknya dia mengisi 30 dari 40 nomor saat ujian negara

ampun tuhan, susah juga bilang aku suka dia. Demimu tuhan, aku sama sekali tak ingin menyakitinya, apalagi menyakiti telinganya dengan ucapan suka ku nanti

mungkin nanti aku berani, saat tanganku sudah patah untuk mencangkul dan menggali terus masuk ke mimpi, bukan, maksudku masuk ke impianku

pokoknya, sekolahku adalah wadah kenangan yang meluap luap. Wadah putih abu abu bermain dengan pena hitam yang seperciknya jatuh ke jiwa. Sehingga terkadang licik sedikit bagi kami wajar adanya.

Aku pegang satu bata, dia pegang satu bata, mereka pegang bata satu orang satu. Kami pernah menyatukan bata bata itu menjadi bentuk maha padu, pyramid namanya

Jangan buang bata bata itu dari diri kalian kawan, nanti pasti akan kita bangun kembali si maha padu itubukan lagi atas nama solidaritas kawan sekolah.

Kini untuk Indonesia, karena batu batu itu nanti untuk tugas akhir kita sebagai pelajar,
pe-er terakhir kita yang tidak lagi boleh kita salin dari kawan sebangku.Membangun Indonesia menjadi negara yang hebat di mata dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar