Selasa, 12 Juli 2011

Maaf itu bukan sori

Terinspirasi dari catatan seorang rendusara, aku berani menata kata.

Tentang bagaimana riuh podium ruangan yang penuh pemuda menyembah bahasa, bahasa yang di riuh podium pikiran mereka dulu adalah pemersatu bangsa. Penyatu si cut meutia dengan si selangkangan kayu ala papua.


Lihatlah para kekasih bahasa penuh warna di indonesia. Semua kata pemilik makna menegur tempat ketulusan terdalam manusia


Siapa tak tahu hamka, dia yang buatku beringkar untuk tak durhaka kepada bahasa, dia kekasih bahasa yang pertama

lalu siapa tak kenal chairil anwar, katanya seindah mawar, tapi efeknya bagai atom yang merambat cepat membuat nagasaki terbakar.

Aku murka kawan, murka. Seorang teman satu meja berkata, sastrawan adalah pendosa. Kata-katanya seolah meninggi ninggikan derajat manusia. Melebihkan kenyataan yang ada.

Padahal itu hanya gaya bagi kami. Sama seperti kalung cincin yang merantai tubuh yang akhirnya juga pasti mati.

Maaf, ini bukan sori. Tapi seingatku bu azri pernah berbunyi. Fragmen bahasa di otak kaum putih abu-abu tak sebanyak matematika meski bahasa sudah dikali bilangan tak berhingga.

Bahasa akan mati dalam perang. Seperti sudah banyak negara orang, tertikam dia oleh si negara charles yang sering batuk menghisap arang dari cerutu yang tembakaunyapun milik kita

Maaf, ini bukan sori. Bahasa kita akan mati, bila kaki kita terus terpatri.

Diam saja disini.Melihat anak berlabel taman kanak berkata fuck, asshole, bitch. Kita hanya puas diam karena terlanjur kaku terpatri,Mau kaki kita tetap terpatri untuk hanya menangisi ?

aku mantab menggelengkan kepalaku dan langsung memberi langkah kaki

Aku duluan yah kawan, berjuang untuk bisa berbicara dengan banyak orang-orang pirang. Bukan dengan bahasa mereka, tetapi bahasa kita.

Karena maaf, itu bukan sori

Tidak ada komentar:

Posting Komentar