Sempet aku pikir hari ini, sehabis pulang aku akan menulis entri baru blogku dengan judul 'Greencanyon with Vanessa'.Bagiku kehidupan itu tersusun dari tiang tiang harapan menuju kehidupan yang lebih baik, dan kini, lagi tuhan menhancurkan satu tiang itu,membuat pondasi itu semakin rapuh dan menunggu sepenuhnya jatuh
'Dik, jalan lagi yuk'
'ayo, kemana ness ? hutan lagi ?'
'greencanyon aja'
'oke deh ketemuan di tempat kemarin lagi aja ya'
'oke'
Semakin hari semakin besar aku memupuk harapan tentang vanessa, walaupun aku tahu, semakin tinggi aku menggantung sebuah harapan, akan semakin sakit saat nanti kujatuh terhempas
2 jam perjalanan yang cukup melelahkan,mengingat tempatnya yang memang cukup jauh dan penuh tikungan tajam yang sisinya dipenuhi jurang, jurang jurang yang seakan siap memakan kami hidup hidup bila kendaraan tidak melaju hati hati
tak ada candaan, hari itu nessa yang terbalut baju ketat putih dan rok yang hanya menutupi setengah pahanya tampak begitu pendiam. Aneh saat itu aku belum menyadari bahwa akan ada sesuatu yang menyakitkan akan menimpaku.
14:02
sang raja siang masih lantang berdiri tegap di singgasananya dan sukses memahkotai kami dengan panasnya.untung aku lihat didalamnya terdapat ribuan pohon pohon besar yang siap melindungi kami
phew,ternyata kita harus berjalan terlebih dahulu,cukup panjang jalan yang harus kami tapaki, bebatuan dan ranting kayu yang masih merajai lintasan menyulitkan kami.Akhirnya, sampailah kami di tempat penyewaan sampan, dan di depan kami sudah terpampang hamparan sungai yang luas,hijau dan jernih,Sungguh indah.
'sampannya jang ?'
'heeh kang, sabarahaan'
'mun dianteran 20 mun sorangan ngan 10 ribu'
'nu 10 ribu aja lah kang, biar urang jalan sendiri'
'oh muhun mun kitu, ka arah sananya jang' sambil jari telunjuknya memandu mata kami'
'sumuhun kang'
aku yang menahkodainya dengan kayu yang berujung lebar di setiap ujungnya, nessa tampak terduduk disampingku sambil merebahkan kepalanya di dadaku
nessa:'kayak romeo juliet yah dik'
aku:'Adam dan hawa ness'
nessa:'beauty and the beast'
aku:'anjrit'
nessa:'hahahaha'
hening
'cinta itu lahir dari kehidupan adam dan hawa, keindahan cinta terlukiskan dalam cerita beauty and the beast dan berakhir di roman romeo dan juliet, dan cerita kitalah yang akhirnya melahirkan kisah kisah itu ness'
hanya senyuman,hanya senyuman yang waktu itu menyambu tubuhku,bukan cubitan bukan pukulan ataupun kecupan, hanya senyuman, senyuman yang penuh arti.
sampan terhenti di sebuah pemandangan alam yang indah,tempat tujuan kami masih ada setengah perjalanan lagi.
'nes aku bakal pulang beberapa hari lagi, bareng yuk nes'
'gak bisa dik'
'kenapa ?emang kamu kapan pulang ?'
'aku ga bakal pulang ke bekasi, aku harus tinggal disini, sama nenek aku, aku harus nyari kerja buat biayain hidup aku, udah engga ada yang bisa aku andelin, semenjak rumah udah ayah jual dan ibu sakit sakitan dan akhirnya meninggal, aku hanya punya tempat tinggal disini, dirumah nenekku'
'trus kuliah kamu gimana ness ?'
'kuliah ? aku berhenti'
'Tapi itu bukan berarti perpisahan kan ness? kita masih bisa berhubungan? kita masih tetep bisa kayak gini terus kan ?'
'gak dik, semua harus berakhir disini, kalau kita tetap bertahan seperti ini, aku hanya akan membebani'
'gak nes ENGGAK'
'HARGAIN KEPUTUSAN AKU DIK, TEGA KAMU BIARIN AKU HIDUP DALAM PERASAAN MEMBEBANI ? TEGA KAMU DIK HAH ? HARGAIN PERSAAN AKU DIK !'
tangisannya habis terurai menjuntai di sungai itu, suaranya menggema keras, kepakan kepakan sayap burung tampak ketakutan dan terbang jauh mengudara
'tega ? tega kamu hadir kehidupan aku ness ? hadir dalam mimpi mimpi aku, merebut setiap pikiran pikiran aku da sekarang kamu akan pergi gitu aja?' niggalin banyak kenangan yang bakal hidup dibawa mati' tega nes'
hening
hanya isakan nafas nessa yang terengah engah yang mampu terdengar
'dik, anggap ini semua hanya mimpi,anggap semuanya cuma mimpi'
'dan anggap aku adalah orang yang akan terus tertidur nes, agar selamanya mimpi ini ga perlu berakhir'
Lucu, baru baru kemarin malam seorang teman aku bujuk untuk bangun dalam mimpinya dan raih mimpi itu, jangan hanya menikmatinya saat tertidur lelap.Tapi sekarang apa ? aku bagai hanya si pembual yang banyak bicara.
'Dika, aku sayang kamu'
'aku juga nes'
perlahan matanya terpejam, bibirnya mendekat dan....
'jangan nes'telunjukku menghentikan aksi bibirnya
'maaf' perlahan nessa memudurkan kepalanya dan menduduk.
'pulang yuk nes'
'gak mau, aku masih mau ngabisin hari ini sama kamu dik, hari terakhir ini'
'oh, dan nyiptain kenangan yang semakin nyesekin hati ?'
'...'
perlahan aku pandu sampan kembali, sesudahnya kami masih harus berjalan panjangan ke muka jalan, nessa berjalan pelan dibelakangku, meniti langkah kecil kecil karena tanah yang teramat licin, tiba tiba...
'aw' nessa tergelincir jatuh menghujam tanah, kakinya tampak terkilir, mau tidak mau aku harus menggendongnya, aku gendong dia di punggungku, uhft berat, tidak ada hilir mudik orang disana waktu itu, tak bisa aku meminta bantuan, oh iya aku ingat, ini sudah habis dari waktu liburan, sudah banyak mereka yang dari luar kota sudah sibuk kembali dikantornya masing masing. dan akhirnya sama aku melihat sebuah panggung bambu kecil, jauh dipelosok dalam hutan yang kami lalui, aku kesana dan mulai menaruh nessa dirumah itu, dan kupijit pergelangan kakinya
'sakit dik'
'mau sembuh gak ?kalo dibiarin ntar malah bengkat, ntar malah bisa berminggu minggu, udah nurut aja'
'iyaa dik'
wajahnya teramat cantik wktu itu, dibalut baju ketatnya yang basah oleh keringatnya dan rok pendeknya yang waktu itu leluasa aku melihatnya
'dik'
'kenapa ness ? udah enakan ? coba gerak gerakin'
'udah dik, udah bisa buat jalan jalan kok, tapi please dik, disini dulu, tolong'
'hmm oke deh'
dia tersenyum, perlahan tubuhnya mendekat, dan sekarang dia sukses memagut bibirku, lama sekali, bermenit menit, hingga kami berdua saling berdiri dan memeluk, dan sampai air matanya mulai menetes deras menghujani pipiku
'hari ini tubuh aku buat kamu dik, aku rela untuk kamu, tolong temani aku habisi waktu hari ini hanya bersamamu'
ciuman kami terhenti, dan matanya memandang jauh ke arah mataku, perlahan lahan tangannya menarik pakaiannya keatas
'jangan nes, apa yang kamu pikirin sih.aku gak mau, jangan ngukur semuanya ini hanya sebatas tubuh kamu, aku mau seutuhnya kamu, hati kamu, kepercayaan kamu dan semua tentang kamu, yuk ness sekarang kita pulang, sini biar aku bantu kamu'
dia hanya diam menyambut tanganku, kamu berjalan hingga akhirnya sampai ke muka jalan raya dan menaiki angkutan, sepanjang perjalanan dia tertidur di bahuku
'jangan bangunkan aku, biarkan aku sama sepertimu selamanya hidup dalam mimpi' katanya berurai tengis di bahuku.
lalu dibahuku, terdengar dia menyanyi nyanyi kecil, air mata yang trus menutupi suara sengaunya tapi aku tahu itu lagu yang pernah ia persembahkan, dan sampai sekarang lagu itu masih terus bernyanyi dipiranku
Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
‘tuk sejenak lelap di bahumu
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
hingga senyap waktu meninabobokannya,
ketika sampai ke tempat aku harus turun, aku membangunkannya
'kenapa kamu bangunkan aku?' katanya dengan mata merah yang berair
'jangan hanya jadi sang pemimpi, jadilah sang peraih suatu saat kita akan sama sama sukses dan kita akan bersama lagi, ku yakin itu ness'
'dik, makasih buat semuanya, buat semua pelajaran yang kamu kasih kau akan selalu di hati aku, dan aku akan selalu menunggu datangnya kenyataan dari ucapmu
Perpisahan itu pun terjadi, angkutan terus membawanya pergi hingga hilang dari pandangan, teman teman, tolong sampaikan harapan aku, aku ingin menjadi penulis yang sukses, dan suatu saat nanti dapat menjemputnya kembali...