Senin, 13 September 2010

Silam masa lalu sebelum kelam

Gaduh suara ayam membangunkan aku fajar ini.jam tanganku masih menunjukkan waktu 04:36, hilir mudik pejalan kaki terus memenuhi muka jalan,langit merah menyapa tanaman yang telah haus kehangatan,lampu lampu jalanan mulai mati satu persatu, tinggal lampu dari depan rumahku, menyorot langsung ke arahku, seperti mr bean kurasa, aku merasa menjadi si anomali, sendirian dan kesepian.

Bayang bayang masa lalu pun mulai menjamah pikiranku. Di ujung penglihatanku sana lapangan yang tepat 10 tahun yang lalu menjadi arena aku berlari lincah, dan ayah ibuku mengejar dengan gelak tawa lepas, mereka menangkapku dan menggendongku tinggi tinggi, setinggi harapan mereka yang kini telah tersapu angin waktu, tepat di dipan ini sudah menjadi kebiasaan aku dan kakakku berfoto ria, mengeluarkan beratus gaya yang mampu menancing senyuman seisi rumah. Kakakku bergaya menjadi pangeran dari kartun sailormoon, dan aku berpura pura menjadi mawarnya, berdiri tegak dengan arah kepala yang dimiringkan, lengkaplah kami sebagai pasangan saudara yang terlihat idiot bila kuingat kini.
Tapi aku lebih merindukan hal itu, makian dan cacian adalah fenomena yang langka dahulu,
gemericik air itu marih kudengar, saat tapak tapak kaki kami bermain di sungai, aku hanyut dan terjaga saat melihat kedua orang tuaku menangis dan memeluk ragaku yang masih kepayahan untuk bernafas, masihkah mereka peduli terhadapku seperti dulu ? Atau haruskah aku menghanyukan diri lagi ? Atau menggunakan kaca memutus aliran nadi, aku hanya ingin mereka berdamai, ini pedih, dan ini adalah saat saat menyebalkan, dimana aku harus menulis dngan luapan emosi, dengan tangisan yang membasahi ponsel genggamku satu satunya yang 4 tahun yang lalu kuminta dengan antusias ke kedua orangtuaku yang masih slalu mengusap kepalaku, mengumbar senyum kearahku. aaargh kemana kalian sekarang ? Hidup disisi yang amat kubenci.
Ingin pergi ingin pergi ingin pergi, pikiran itu terus membuatku berhalusinasi, aku hanya ingin kembali kemasa dulu yang terus menghantui, jiwaku terus bergetar bila mengingat ini,

dulu aku pernah bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar