Hari itu, tepatnya
jumat,24 september 2010
sore itu langit tampak begitu berkabung, jutaan tetes air membasahi bumi,hitam pekat, langit terasa begitu akrab dengan kilatan yang sesekali menyambar.Jauh di bawah sana, tepatnya di Sma 1 bekasi, seperti menolak keadaan cuaca yang dinginnya begitu menembus tulang, tubuhku tengah bermandikan peluh,membalas tepukan demi tepukan bola pingpong yang dikirim lawan mainku.
17:32
ponselku nampak bergetar diatas bangku kayu panjang
tertera jelas itu nomor ponsel ayahku,ah tak usah kuangkat, paling hanya makian karena mendapati lawan beradu mulutnya belum pulang selarut ini,tetapi selanjutnya sebuah pesan masuk
'Dika,nenek sakit,sekarang semua keluarga udah disana,papa mau kesana sama mama'.
Apa ? Nenek sakit?,setelah mengambil motor di tempat parkir, aku memacu honda bladeku, menyapu hujan yang menghalangi laju rodaku, melaju kencang seakan trauma 'diatas 60km/jam' ini tidak pernah ada.
Akhirnya aku tiba di kediaman tanteku yang menampung nenekku tinggal, jalan gatot subroto,kampung dua ratus,alun alun bekasi.karena panik,aku lupa menurunkan penopang motorku dan alhasil motor itu kubiarkan membentur tanah sedangkan pemiliknya tengah berlari menembus kamar nenek.
Itu dia, tubuh kurusnya amat mudah aku kenali,tapi sekarang tampak lebih kurus dan pucat, kaki kakinya dingin dengan dikelilingi tamu tamu yang bergelar 'saudara' nenekku terbaring lemas. Aku menghampirinya dan mencium tangannya, dan dari mata itu, dari kantung mata yang sudah lama tidak berpapasan dengan air mata itu akhirnya berderai juga, tidak banyak kata dari bibir yang memutih itu
19:04
tamu tamu sudah pulang semuanya, dan tak lama orangtuaku datang, aku yang kini tengah duduk di pinggiran tempat tidur nenekku sama sekali tidak menyambut mereka, aku asik membelai rambut nenekku yang sepenuhnya putih,aku memijat mijat dahinya yang berhias kulit yang telah penuh mengendur, tangan kiri nenekku perlahan naik, naik dan kian naik, kini perlahan tangan nenekku telah mengelus elus rambutku daan aaah, ini sama seperti 12 tahun silam, saat hampir setiap hari dia mengelus rambutku, air mataku berderai begitu saja, dan kedua orang tuaku, yang sedari tadi bisupun akhirnya roboh juga pertahanannya, ayahku akhirnya menangis, bayangkan, ayahku menangis !, bertahun tahun aku hidup ini adalah kedua kalinya aku lihat ia menangis.
Kenangan demi kenangan tengah menjalar, datang dan datang lagi, seperti busur yang terus melepas anak panahnya, aku mengingat saat pertama kali aku dan ayahku, seperti semangkuk sup, aku tak pernah bisa hidup tanpa mangkuk ayahku, dan ayahku akan terasa kosong dan hampa bila tidak ada diriku, dulu kami amatlah dekat, dekat sekali, apapun yang ayah lakukan seperti semuanya hanya untukku, kakakku tidak jarang iri dengan kejadian ini, kami dulu teramaat dekat, aku ingat itu, suatu hari kami harus ke ciamis karena ada pernikahan sanak saudara dan bertepatan itu ayahku ada hal penting di kantornya, perpisahan pertama aku dan ayah, baru bis meniti perjalanan, ponsel dika kecil berdering, dan diujung telepon sana suara ayahku bergetar hebat, terisak, menyuruhku menjaga diri, makan dan jangan nakal, aah ayahku menangis.
Dan kenangan yang tak mungkin bisa kujabarkan satu persatu, tentang nenekku
nenekku adalah juru masak terhebat yang pernah aku temui, dika kecil sanggup makan 5-6 kali sehari bila nenek sudah menyempatkan diri ke dapur, oh iya, pernah suatu hari, nenekku sedang menginap dirumah, dini hari sekali dia sudah menenteng belanjaan dari pasar, ketika kutanya, ternyata soto ayamlah menu kita siang ini,karena tidakk hanya ingin menjadi penonton saja, aku bantu bantu nenek masak, entah membantu atau hanya merepotkan.tetapi daging ayam yang kuiris tampak dimasukkan nenekku dengan senyum ramahnya, dan tampak nenek memasukkan sejumput garam, kemudian gula
'kenapa pake gula nek ?'
biar gurih katanya, pikiran cemerlang ku mulai hidup mendebat di otakku,
hmmm bila aku tambah gula lagi pasti bakal terasa gurih sekali, yummy
saat nenek sedang asik menyuci perkakas kotor.
dengan sok tau, hampir 6 rauk tangan kecilku menyendok gula dan mencampur ke dalam soto,
huek manis banget, gak enak
dan ketika jam makan siang ayah, ibu dan nenek terpaksa menikmati 'kolak daging ayam' buatanku, tetapi dengan muka suka cita mereka tetap memakannya, sambil melihat aku yang dengan liciknya memakan indomie rebus bikinan nenek.
Aaah aku teringat itu lagi,
saat 12 tahun yang lalu, dibawah tubuh nenek terbaring lemas, tempat tidur itulah tempat nenekku menina bobokan aku, mengelus elus dahi dan rambutku, sama persis seperti yang sekarang kulakukan, seperti inilah ternyata lingkaran kehidupan, tetapi apakah aku bisa membuat nenek merasa nyaman dan aman sama seperti apa yang aku rasa kala itu ?
Air mataku menetes tumpah di pipinya, nenek terbangun, dan menatapku dalam, nenek tersenyum, mungkinkah itu adalah sebuah jawaban 'iya' ? Entahlah, yang pasti setelah kejadian ini, belum ada pertengkaran didalam rumahku sampai hari ini, 2 hari stlah kjadian itu, ayahku menjadi ayah yang lebih perhatian sekarang, akankah terus begini ? Dan kalau ia tahu, aku bahagia (sekarang)
quote:hidup itu lingkaran pengorbanan untuk mendapati sesuatu, sekecil apapun itu, bisa berarti banyak
dan ternyata dengan 'korban' nenekku yang sakit, aku merasakan sesuatu yang lebih baik datang mendekat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar