Sabtu, 11 September 2010

Vanessa....Oh Vanessa

Vanessa.. Oh vanessa

by Andhika Dwi Putra on Saturday, September 11, 2010 at 11:07pm
11/09/2010

matahari menyapa tubuhku hangat , rerumputan yang dibahasi oleh embun pagi, tanah basah yang menebarkan bau khas,deraian biru air turun deras ke hilir. nyanyian indah pagi inilah yang membuat aku ingin berlama lama di kota ini.

11:48
sedang aku terlena oleh hujanan indah lukisan tuhan, tiba tiba ada pesan masuk ke ponselku

'jalan yuk dik, gua nessa'
'gua kira lupa sama gua,yuk nes emang mau kemana ?'
'gak tau gua juga, ketemuan aja dulu ayo dik'
'ketemuan ? Mau dimana nes ?'
'pemda banten aja dik'
'wtf, hahaha serius lah'
'al munawaroh aja, di depan pasar buniseuri'
'oke 20 menit lagi gua sampe sana nes'.

12:22
di tengah pasar yang kian menyepi, ibu dan bapak tua yang telah kembali pulang bersama belanjaan penuh, diikuti oleh para pengamen jalanan yang tengah asik menghitung dari kantung permennya, disana kulihat sosok nessa, mengenakan rok sejengkal diatas lutut dipadu dengan kaos coklat, wajahnya tampak lebih berseri dengan perona merah di kedua pipinya, tak lepas juga bibirnya kini lebih cerah dari biasanya
'hey dikaa'
'eeh, hey jugaa'
'kenapa dik, ada yang salah ?'
'menor banget dandanan lo nes hahaha'
'masa sih ? Lo gak suka yah dik ?
'gua lebih suka lo ga pake apa apa kali nes'
'hah ? Telanjang gitu ?'
'tadinya sih maksud gua tampil apa adanya, tapi telanjang juga not bad hahaha'
' haha sableng'
'mau kemana nih jadinya ?'
'gak tau gua juga dik'
'hutan aja yuk nes'
'ngapain ke hutan ? Tapi jangan macem macem lo ya, gua bawa sisir nih di tas !'
'hah ? Sisir hahaha ngancem bagusan dikit kek, piso gitu atau silet kek, sisir buat apaan ?'
'nyisirin gigi lo !'
' kampret'
'hahahaha'
'yaudah yuk'

13:32

lama juga gua sama dia di angkot, akhirnya sampe juga gua di hutan, tepatnya hutan yang amat lebat. Pepohonan ratusan tahun ini seakan melindungi tanah tanah agar senantiasa lembab sebagai cadangan makanan mereka, dan disinilah akhirnya kita berpijak

'indah ya dik, lo sering kesini ?'
'terkadang, yuk kita ke air terjun'

perlahan kaki kaki kami menjamah tanah merah yang licin,tangannya dengan erat megang tangan gua, sesekali ranting ranting dipatahkan kaki kami, sesekali ranting rantingpun mematahkan kaki kami (loh)

sampailah kami, disebuah sungai yang diatasnya mengalir air terjun yang amat deras.

'aaaaah' jeritnya waktu gua dorong dia ke sungai dangkal itu, tak ayal kakinya langsung terperosok masuk ke dalam sungai.

Ga beberapa lama gua ajak dia buat daki air terjun dari sisi sisi batu dan sampailah kami dipuncak, menikmati indah air terjun yang bercampur kengerian akan jatuh,
'dik gua takut, turun aja yuk'
'cium dulu dong hahahaha'
ga disangka, dia anggep serius ucapan gua.
Adegan itu ngebuat gua stuck di tempat
'diik, ayo turun'
'aa...aa..yoo n..nes'

sesampainya dibawah kita pun duduk duduk dipinggiran sungai, menjuntaikan kaki dialiran sungai.
'nes'
'iya dik ?'
'boleh gua foto lo ?'
'buat apa dik ?'
'buat buktiin ke orang orang kalo malaikat itu bneran ada'
'aaah dikaa'
'hehehe'.

'dik'
' iya nes ?'
'ada lagu buat lo'
'apa ?
'dengerin aja ya'

'mulai dari sini gua saranin sambil muter lagu tentang rasa-astrid)

aku tersesat menuju hatimu
beri aku jalan yang indah
ijinkanku lepas penatku
tuk sejenak lelap dibahumu

dapatkah selamanya kita bersama
menyatukan perasaan kau dan aku

semoga cinta kita kekal abadi
sesampainya akhir nanti selamanya

tentang cinta
yang datang
membuatku takut kehilangan
kutitipkan cahaya terang
tak padam di dera goda dan masa

dapatkah selamanya kita bersama
menyatukan perasaan kau dan aku

semoga cinta kita kekal abadi
sesampainya akhir nanti selamanya'



'bagus nes'
'kamu suka dik ?'
'bangeet, aku juga punya deh kalo gitu buat kamu'
'lagu apa dik' katanya antusias
'cinta satu malam'
'najis aah'
'hahaha'.

'nes,entah ini terlalu cepat atau enggak tapi kayaknya, aku suka sama kamu deh'
'ga ada yang trlalu cepet atau terlalu lama buat suka, itu fenomena, dimana getaran yang abstark yang tau tau bisa nyebabin perasaan kita seneng dik'

'ya getaran yang amat kencang'
'jangan kenceng kenceng dong, ntar runtuh dong'
'gppa nes, semuanya runtuh, kesedihan, kesendirian, kesepian semua runtuh saat ada kamu'

hening,
hanya lagi lagi kecupan yang mendarat, entah ini sebuah jawaban atau sebuah reaksi, disaksikan oleh ribuan rintikan hujan,kami berpelukan mesra selayaknya dua insan yang sedang memadu kasih, pepohonan pun tampak sibuk melindungi kami dari hujan yang kencang mengguyur bumi.Matahari masih tampak begitu angkuh untuk membagi sinarnya, hujan kian mereda, pelangi pun muncul dengan indahnya.
'nes'
'iya dik?'
'indah ya'
'iya udah jarang aku liat pelangi, pelangi yang mengapung diatas air terjun dengan biasnya yang mewarnai segala sisi'
'kayak kamu'
'maksudnya ?'
'kamu juga udah banyak ngubah warna hitam putih jadi lebih berwarna, apa kamu tahu kenapa pelangi hanya terlihat seperti setengah lingkaran ?'
'emang kenapa dik'
'setengahnya lagi udah terpampang jelas di mata kamu nes'
'ah dika'
'hehehehe'

18.12
'pulang yuk nes'
'aku msih betah disini dika'
'kenapa ? udah larut, nanti kalau gelap, aku takut kita tersesat'
'biar, asal ada kamu aku ngerasa aman'
'waaaaah beneran ?'
'iyaa dikaa'
'kok bisa ?'
'muka kamu kayak gardu satpam sih'
'hahahaha kampret, ayo deh pulang'
'yuk'

ditemani sinar rembulan, kami mulai menapaki jalan pulang, langkah perlangkah kecil kami lalui dengan gandengan tangan yang ama erat,mengingat saat itu tanah amatlah licin dan bila terjatuh, habislah sudah kami,akhirnya kami bertemu muka jalan dan kebetulan hanya butuh beberapa menit saja, angkutan yang akan mengantar kami pun terlihat.Lagi dan lagi Nessa tertidur lelap di bahuku, tangannya terasa mencengkram tanganku, entah apa yang sedang dia impikan.

'ness, bangun aku turun sini ya'
'iya dika, eh iya ini punya kamu hampir lupa'
' eh iya jaket aku hahahaha, kirain udah dijadiin keset'
'hahahaha yaudah hati hati yah, nanti malam aku sms dika,'
'sip deh nessa'

23:01

Aku menulis semua pengalamanku, ditemani oleh lantunan lantunan lagu lagu klasik aku duduk di dipan rumah, lemah lembut angin berhembus seperti ikut bernyanyi bersama hatiku, dan bintang bintang kini seperti ikut tersenyum denganku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar