07/09/2010
aku terjebak, terjebak dalam fragmen fragmen riuh, sebuah podium berisi sepasang orang tua yang saling bertukar maki dengan bangganya, bersemangat membela salahnya,berikan aku sesuatu yang berbeda, berikan aku sebuah tawa. Lalu kuputuskan untuk pulang kampung duluan, ciamis.
09:04
riuh terminal, kawanan teman berjalanan di pinggiran, para calo mencari receh receh untuk mengasapkan dapurnya, tak ketinggalan para copet yang tengah bersemangat mengikuti ibu gemuk tua yang memamerkan stiap perhiasan di stiap jengkal tubuhnya
akhirnya aku menemukan bis yang akanku naiki, satu persatu mata menjamah tubuhku dan berlalu lagi dalam kehidupan masing masingnya, minimal mereka mengingat wajahku dalam memori otaknya untuk smentara, jadi bila ada suatu kehilangan, mereka sudah tau siapa pelakunya, si urakan berkaos hitam dengan tas slempang coklat.
'untung aja rada sepi' pikir gua, nginget waktu itu jajaran kursi tengah kebelakang kosong melompong. Gua mutusin buat duduk di bangku tengah, disamping cewek, dan pasti itu orang keturunan sunda, putih, bermata lentik dan cantik ditambah balutan kaos abu abu berlengan pendek, sempurna.
'Hey' sapanya menjulurkan tangan
'aku vanessa'
'a..aa..andhika' jawabku gugup menyambut tangannya
'jangan grogi gitu dong, kaya ga pernah duduk sama cewek cakep aja hahaha'
'atuur dah mba'
'enak aja, emang gua keliatan kaya tukang dagang pecel ya ? Gua masih 19 taun kok andhika'
'panjang banget manggilnya andhika'
'trus apa dong ?'
'james aja'
'hahaha serius maunya dipanggil apa ?'
'dika aja, lo sndri ?
'markonah'
'we hahaha ga lucu ah'
'nessa aja dik'
'oh'
pembicaran berhenti, ga tau mau bahas tema apa, ga mungkin juga kalo gua mau bahas spongebob yang tadi pagi gua tonton'
ga beberapa hape gua bunyi, gua keluarin dari saku dan pas gua lagi bales dia nanya
'cie, pacarnya ya'
'iya nih nes'
'ciee dika, namanya siapa ?'
'nurdin'
'....'
'hahaha ga canda kok'
'baru gua pengen pindah bis dik'
'hahahaha'
ini yang nyebabin kita jadi akrab, yang ada dipikiran gua pas prtama ngeliat, gua kira angkuh, ternyata, hampir sesempurna luarnya, terutama parasnya, mirip seseorang yang gua kenal di mimpi mimpi gua
'oh iya dik ? Kok kesendirian ? Ga takut digodain tante tante girang ?'
'hahaha kalo tantenya kaya lo mah gppa dah nes'
'hahaha ih apa sih' sambil dia ngedorong bahu gua
'idih tante nessa mukanya merah'
'aah udaah ah' sekarang perut gua dicubit,
'itu liat tuh mukanya merah kaya ba+@*$' belum smpet gua lanjutin, kepalan tangannya udah ngacung tepat di depan muka gua
'hahaha ampuun'
'kenapa sndiri hayo,kenapa gak sama keluarga ?'
'gak nes,keluarga gua pada sibuk'
'kerja maksud lo ?'
'mungkin'
'kenapa sih dik, kok muka lo jadi sepi gini'
akhirnya slama di perjalanan gua ceritain smuanya
'mending dik' keluh dia
'mending, ? Maksud lo ?'
'mending lo masih bisa ngeliat mereka, mending lo stiap hari masih bisa ketemu mereka'
'loh, emang lo knapa nes ?'
'ibu gua meninggal dik baru 6 hari yang lalu, dan ayah gua ? Sampe skarang gua ga tau dia dimana, smenjak ayah gua ditipu koleganya, usahanya ancur, utang disana sini, dan dia pergi tanpa pertanggungan apapun sama gua dan alm ibu, smenjak itu ibu jadi sakit sakitan dan meninggal'
ya allah,selama ini aku slalu berfikir, aku yang paling malang, ternyata aku yang trlalu angkuh, disisi lain dunia ini, ternyata akan slalu ada yang lebih terpuruk. Jangan slalu berpaku diatas langit tetap ada langit, tapi ingat dibawah tanahpun masih ada tanah, jadi apapun kondisinya syukurilah
'maaf nes,gua ga tau gua harus ngomong apa, kalo gua ngomng sabar aja ya, lo udah cukup sabar buat itu semua, yang gua tau cuma lo itu wanita yang kuat nes, dan gua yakin lo akan selalu kuat'
'i.. Ia dik makasih' kata kata yang keluar amat tidak sebanding dengan air mata yang tidak dapat dibendungnya, dan hanya siluet siluet jalanan yang berani memandang wajahnya melewati kaca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar