Dibawah deraian hujan, aku bernyanyi nyanyi dengan kata verbal.
Aku pelajar 3 sma, memiliki sahabat yang biasa disebut 'kesunyian', entah kenapa, dia slalu hadir untukku, disaat aku sendiri, hanya kesunyian yang menghiburku dengan diamnya.
Hebat, klise , kampungan, bermacam ragam komentar orang akanku, mereka berpikir aku trlalu lemah, hanya karena berpikir, pria yang suka menulis itu sangat jauh dari jantan. Aneh bukan ? Mereka lebih mempunyai waktu untuk mencela daripada berkarya, tak apalah, toh dengan mereka mengomentari aku, aku tahu mereka peduli denganku, aku berpengaruh dengan kehidupan mereka, dan aku ? Ada tidaknya mereka tidak mempengaruhiku, ingat, aku seorang realis, bukan idealis, jangan paksa aku hidup sejalan dengan norma nilai yang berkembang, karena aku hanya ingin jalan dalam konsep hidupku sendiri. Satu pandanganku yang sama akan orang kebanyakan, pendidikan itu penting, pendidikan adalah harga mati untuk cerah masa depan, jadi disinilah aku, diantara mereka yang berbakat menjadi kepala negara sampai pengacara. Satu guru teladanku, Ibu efita namanya, dia pendidik, bukan pengajar, dia mendidik rasa nasionalis kami, ada garuda merah putih hidup dalam hati kami bung !.
Ibu efita amat pandai dalam mencermat setiap kata yang akan terurai dari mulutnya, hebat.
Seperti benih benih yang disirami air, kami pun tahu betapa mencintanya kami akan negeri ini, dan tindakan apa yang mungkin untuk kita lakukan, sedang guru lain diluar sana mungkin sedang sibuk menyiram benih itu dengan bensin, menggebu memang, tapi tidak pada tempatnya, hanya pikiran anarkis nantinya yang ada
'BAKAR'
'TURUN KE JALANAN'
'GEBRAK GERBANG DPR'
Memalukan pendemostran sekarang, Mengatasnamakan demokrasi seperti freepass membajak bis atau saling melempar batu dengan aparat, huh demokrasi, ironis bung , mereka bahkan hanya mngerti dari kata demos, sedangkan kratos mereka abaikan, ini berbukti dengan beberapa demonstran yang berlantang suara menjawab pertanyaan pers tentang apa motivasi mereka
'Hanya ikut ikutan saja'
'lumayan, sangunya bisa untuk mengepulkan dapur'.
Alangkah lucunya negeri ini, mereka berteriak tanpa tahu apa artinya, yang penting 4-5 lembaran imam bonjol bisa mengisi kantung mereka.
Maaf bila ini salah, aku hanya pelajar biasa, ingin bersuara, bukan dengan aksi menjemur diri atau menyiksa diri, tetapi dengan menulis sama seperti idolaku, Chairil anwar, siapa tidak kenal ? Manusia cerdas penggugah rasa nasioanalisme
Aku pelajar 3 sma, memiliki sahabat yang biasa disebut 'kesunyian', entah kenapa, dia slalu hadir untukku, disaat aku sendiri, hanya kesunyian yang menghiburku dengan diamnya.
Hebat, klise , kampungan, bermacam ragam komentar orang akanku, mereka berpikir aku trlalu lemah, hanya karena berpikir, pria yang suka menulis itu sangat jauh dari jantan. Aneh bukan ? Mereka lebih mempunyai waktu untuk mencela daripada berkarya, tak apalah, toh dengan mereka mengomentari aku, aku tahu mereka peduli denganku, aku berpengaruh dengan kehidupan mereka, dan aku ? Ada tidaknya mereka tidak mempengaruhiku, ingat, aku seorang realis, bukan idealis, jangan paksa aku hidup sejalan dengan norma nilai yang berkembang, karena aku hanya ingin jalan dalam konsep hidupku sendiri. Satu pandanganku yang sama akan orang kebanyakan, pendidikan itu penting, pendidikan adalah harga mati untuk cerah masa depan, jadi disinilah aku, diantara mereka yang berbakat menjadi kepala negara sampai pengacara. Satu guru teladanku, Ibu efita namanya, dia pendidik, bukan pengajar, dia mendidik rasa nasionalis kami, ada garuda merah putih hidup dalam hati kami bung !.
Ibu efita amat pandai dalam mencermat setiap kata yang akan terurai dari mulutnya, hebat.
Seperti benih benih yang disirami air, kami pun tahu betapa mencintanya kami akan negeri ini, dan tindakan apa yang mungkin untuk kita lakukan, sedang guru lain diluar sana mungkin sedang sibuk menyiram benih itu dengan bensin, menggebu memang, tapi tidak pada tempatnya, hanya pikiran anarkis nantinya yang ada
'BAKAR'
'TURUN KE JALANAN'
'GEBRAK GERBANG DPR'
Memalukan pendemostran sekarang, Mengatasnamakan demokrasi seperti freepass membajak bis atau saling melempar batu dengan aparat, huh demokrasi, ironis bung , mereka bahkan hanya mngerti dari kata demos, sedangkan kratos mereka abaikan, ini berbukti dengan beberapa demonstran yang berlantang suara menjawab pertanyaan pers tentang apa motivasi mereka
'Hanya ikut ikutan saja'
'lumayan, sangunya bisa untuk mengepulkan dapur'.
Alangkah lucunya negeri ini, mereka berteriak tanpa tahu apa artinya, yang penting 4-5 lembaran imam bonjol bisa mengisi kantung mereka.
Maaf bila ini salah, aku hanya pelajar biasa, ingin bersuara, bukan dengan aksi menjemur diri atau menyiksa diri, tetapi dengan menulis sama seperti idolaku, Chairil anwar, siapa tidak kenal ? Manusia cerdas penggugah rasa nasioanalisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar