Entah kenapa, remaja itu selalu memiliki kaitan erat sama yang namanya cinta, banyak cerita, dari cinta pertama, hingga cinta yang berlabuh ke pelaminan.
Tapi terkadang ada juga beberapa yang terjebak dalam siklus: suka-jadian-bertengkar-putus-suka-jadian-bertengkar-putus, lucu bila mengingat siklus trsebut. awal awal pacaran, kata kata klise 'slamanya' 'hanya kamu' 'abadi' atau ' i love u' menjadi andalan pengantar tidur kekasih melewati pesan singkat.
Lalu pertengkaran tak terelakkan, mereka bersemangat membela kesalahan mereka masing masing, saling menganggap kesalahan yang dilakukan itu lumrah. Dan siklus berakhir di kata 'putus', kata yang ngebuat beberapa orang ngeakhirin hidupnya di tambang yang tergantung kuat di balok rumah, atau nadi yang putus digores kaca.
Menurut survey, mereka yang memiliki keberuntungan dari segi fisik dan finansial lah, yang akan menang dari seleksi wanita wanita kota kebanyakan.
Bagaimana dengan aku ? Wajah di bawah standar edar, mungkin bila sekolah menjadikan kualitas wajah sebagai salah satu pertimbangan naik kelas, aku pasti kini sudah frustasi karena tidak naik naik kelas. Kenapa aku percaya kalau aku jelek ?
Ada 2 kisah tentang itu:
pertama, saat dulu motorku rusak, terpaksa aku harus naik umum, baik pergi maupun pulang.
Setelah bel pulang berbunyi, entah kenapa aku gak bergairah untuk berlama lama disekolah, jadi kuputuskan untuk segera pulang, dengan umum tentunya. Aku duduk di bangku depan, satu menit, 2 menit, hingga 10 menit, angkutan umum ini masih mangkal, perlahan angkutan penuh oleh kami para putih abu abu. Kuintip di spion tengah, ada 3 gadis tengah menggosip seru, sama sekali tidak ada niatan menguping, tapi suara mereka memaksa aku ikut mendengarkan, mereka asik membicarakan erick, teman sebangkuku, wah ternyata erick cukup tenar juga di kancah 3 adik kelas ini
A:kak erick kalo diliatin manis juga yah
b: ih masa ? Biasa aja ah, maksud lo kak erick yang suka bareng kak dice kan'
a: iya yang suka bareng sama kak dice
c: hah ? Kak dice, kak dice yang mana sih ? Kayaknya pernah dnger
A:itu loh, yang TONGGOS
B: iya yang GENDUT
C: jelek ?
B:BANGET
A:IYALAH
aih nista, sejelek-itukah-aku ? Hebat skali cepatnya wanita mengganti status orang dalam pmbicaraan, status aku yang tadinya sebagai teman erick 5 menit kemudian bisa jadi seperti mutasi beruang kutub dan berang berang.
Nah, pengalaman kedua, walau bukan dengan kata kata, tapi ini beberapa kali lipat lebih menyakitkan.
Tidak pede bergaul dengan tatap wajah, aku putusin buat punya facebook. Entah kenapa dengan facebook aku menjadi memiliki sebuah ekspetasi, ekspetasi besar, ekspetasi yang ngebuat aku foto berjam jam demi mendapat hasil jepretan yang nyerempet kata bagus, dan itu berhasil. Satu foto yang langsung gua taruh dan pampang di fb, kok cakep ya ? Aku jadi bingung.
Efek dari foto ini jadi besar banget, banyak cewek yang tergaet dengan foto-yang-dihasilkan-berjam-jam, salah satunya cantik, manis dan humoris, kami terlalu cepat akrab, terlalu hebat perkenalan kami hanya melewati facebook, tapi aku merasa sperti sudah klop dengan acha.
'dik, ketemuan yuk'
'ayu aja'
obrolan singkat di chat facebook lah yang jadi awal petaka.
Di mall kami janjian bertemu, dia menanti di depan stand J.CO, aku tahu itu dia, karena sesuai dengan code dress yang ia beri, mukanya penuh pengharapan dengan sesekali melirik mencari teman tampan di facebook. Aku menyapa,
'Icha yah ?'
'iya, siapa yah ?'
'dika'
'kok ?'
dia diam, muka airnya jelas kini berubah, tatapannya mengadili tubuhku yang tak sesuai harapannya, terpancar wajah tak percaya dan kesal.
'sori dik, gua ada keperluan, gua duluan'
walau aku tau itu hanya alasan, tapi
aku memilih diam dan mengangguk.
aku terus menatapnya, hingga sosoknya menjadi titik dan akhirnya menghilang. Petir mengutukku menjadi batu, pikiranku waktu itu belum bisa menerima hal secepat itu.
Aku terdiam hebat, galau. Hingga aku akhirnya memutuskan menerobos berlari menembus hujan, tapi tak lama aku kembali, sempat sempatnya aku lupa, waktu itu motorku masih ada di parkiran.
Itulah, ekspetasi, ekspetasi karena pngen lebih dihargain dan dapat perlakuan layak, ekspetasi yang berharap acha akan mengangguk saat kukatakan 'maukah jadi pendampingku' yang ngebuat akhirnya aku patah hati
coba bila ekspetasiku adalah hanya untuk melihat atau paling mentok berbicara dngannya, pasti bukan sakit hati yang kudapat, tapi kepuasan.
hahaha
BalasHapuswoles ce
lo ga sejelek itu ko
:D