Setiap detik, setiap malam, setiap minggu, pikiranku selalu diatas namakan oleh pelajaran, bukan hanya aku, ibu dan ayahku mungkin begitu, akan jadi apa anaknya nanti, saat sebayanya sibuk mempelajari aksioma, aku sibuk mencuri waktu untuk bermain game, ibuku seperti sudah kepayahan dengan sikapku, terkadang dia menangis, padahal jelas, matanya sudah terlalu lembab oleh perihal lainnya yang membantu detak jantung ibuku melemah.
Oh ibu bapak guruku tercinta, berhentilah kalian bercerita dengan bahasa yang tidak kupahami : Aksioma, mendel, relativitas, pertidaksamaan,glikolisis ataupun metabolisme, tak satupun menyentuh otakku.
Hitung dan hitung, aaah, hal kecilpun harus dihitung. Sangat berlawanan dengan pemikir realis macamku, orang orang sedang susah mencari berapa grativasi saat melihat bolpoin terjatuh, dan aku tertawa kecil, lucu, semua orang mengabaikan hal kecil, benda jatuh kan semestinya diambil, bukan dihitung, aku juga memiliki kisah lucu tentang itu.
A:lihat buku jatuh
b: oh ya ?
C: mari kita hitung, apa yang mesti kita cari sekarang
a: berapa elevasinya
c: oh ya betul
a: cari massa buku
c: iya, lalu ?
a: tentukan berapa gravitasinya
c: ah iya iya, lalu ?
B: cari berapa gadingnya ?
c: ah iya
a: ...
C: eh ?
B pun diarak keliling sekolah.
Tapi aku harus mengakui, secara akademis aku amat kurang dari cukup, pelajaran sastra yang aku sukai pun, aku masih mesti ikut perbaikan nilai, orang terbodoh di kelas, aku sedikit terhibur oleh kata budeku, 'gak apa toh dik ? Lebih baik jadi yang terjelek dari yang terbaik, daripada terbaik dari yang terjelek,
lebih baik menjadi yang terbaik dari yang terbaik lah, ibuku menimpali gemas pendapat bude,
terderai tawa alami dahulu, yang tak lagi, aku, ibu, atau budeku rasakan, nanti akan kutulis tentang bude dan keceriaanya yang juga sudah lama hilang, keep reading
Tidak ada komentar:
Posting Komentar